Cart

Berita

5 Sebab Laporan PTK Sulit Terwujud !

Ada apa dibalik sulitnya guru melakukan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas?

Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hingga menjadi sebuah susunan laporan dan jurnal tidaklah sulit. Satu hal yang menjadi pegangan guru adalah pupuk niat dan masukkan PTK ke play list kebutuhan wajib guru yang harus dipenuhi. Mengapa demikian? Karena, saat ini banyak guru yang hanya melaksanakan PTK menjelang kenaikan pangkat, sehingga banyak guru yang melakukan secara kilat bahkan penyusunannya pun asal jadi. Pembuatan hasil PTK yang asal-asalan tersebut dapat berdampak pada saat penguji melakukan penilaian. Oleh sebab itu, guru perlu menjadikan PTK menjadi suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan.

Beberapa hal yang menjadi alasan terbesar guru sulit melaksanakan PTK:
1. Kendala waktu
Waktu merupakan kendala terbesar guru yang menghalangi pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Hal ini mengingat akan tugas dan kewajiban guru yang tidak sebatas melakukan aktivitas mengajar, melainkan guru harus melaksanakan kegiatan merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran hingga melakukan penilaian. Selain itu, disisi lain pun guru harus memenuhi kelengkapan adminsitrasi yang tidak sedikit hingga melakukan kegiatan lain di luar jam pembelajaran. Belum lagi, bagi guru perempuan ia harus mengurusi urusan keluarga yang beraneka ragam. Namun sayangnya, hal ini terus menjadi momok guru untuk tidak melaksanakan PTK. Padahal sebenarnya, kegiatan PTK dapat dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Hanya saja, dalam penyusunannya guru harus menyisihkan waktu secara rutin untuk menjadikan sebuah laporan yang siap diseminarkan. Agar penyusunan berjalan secara rutin dan continu, guru harus melakukan plan untuk menentukan target dan kapan ia harus melakukan. Dengan demikian, guru dapat melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas secara step by step dari perencanaan hingga akhirnya tersusun menjadi sebuah laporan yang lengkap.

2. Bingung terhadap permasalahan yang diangkat
Pelaksanaan pembelajaran merupakan sebuah proses inti dari penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh guru sebagai pendidik terhadap siswa sebagai peserta didik pada jenjang waktu tertentu. Dalam melaksanakan proses pembelajaran tentu banyak kendala dan permasalahan yang dihadapi guru. Mulai dari siswa yang ramai di kelas, hasil belajar siswa banyak yang tidak mencapai nilai KKM, suasana pembelajaran tidak kondusif, partisipasi dan keaktifan siswa kurang, dan masih banyak lagi.
Untuk mengatasi banyaknya permasalahan yang ada, guru perlu melakukan identifikasi terhadap permasalahan atau kendala yang dialami. Baru selanjutnya dilakukan penyortiran untuk menemukan fokus permasalahan yang akan dipecahkan. Kemudian, guru merumuskan masalah dan mengkaji tindakan yang akan dilakukan. Pola pengangkatan masalah demikian, merupakan pola kerucut atau pola penyederhanaan masalah berdasarkan tingkat kepentingan masalah.

3. Sulit menentukan tindakan pemecahan masalah
Seringkali tindakan pemecahan masalah menjadi problematika guru saat melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal demikian biasanya terjadi setelah guru menemukan pokok permasalahan yang akan diangkat. Namun, karena banyaknya solusi yang ada baik dengan metode pembelajaran maupun media pembelajaran, maka kemudian guru hanya sembarang untuk memilih tindakan yang dilakukan. Padahal sesungguhnya tindakan untuk memecahkan masalah yang akan dilakukan perlu disesuaikan dengan beberapa hal agar pemilihan tepat dan penerapannya pun sesuai. Selain itu, guru juga seringkali memilih solusi yang sederhana. Artinya metode/ model yang digunakan sudah pernah diterapkan dalam pembelajaran, sehingga siswa sebagai subjek penelitian pun belum merasakan pengalaman belajar yang baru. Dengan demikian, Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan terkesan sudah umum dan banyak digunakan dimana-mana. Lalu hal-hal apa saja yang harus diperhatikan guru dalam memilih solusi tindakan pemecahan masalah?
a. Kemampuan guru
b. Sarana dan prasarana yang tersedia
c. Kelebihan dan kekurangan dari metode atau media
d. Latar belakang dan karakteristik peserta didik
e. Materi yang berkaitan
f. Belajar dari sumber referensi

Beberapa hal di atas menjadi penting untuk diperhatikan, karena sering kali guru memaksakan kehendak untuk menerapkan metode atau media yang digunakan, namun tidak memperhatikan faktor lainnya, sehingga penerapannya pun tidak tepat dan tidak relevan dengan kondisi yang ada. Dampak yang diakibatkan adalah pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas tidak berjalan sesuai harapan dan dapat menimbulkan permasalahan baru. Lalu bagaimana dengan guru yang hanya sembarang mengambil tindakan? Langkah yang dilakukan adalah dengan membaca sumber referensi yang dapat diperoleh dari buku bacaan, membaca majalah jurnal ilmiah, melakukan sharing dengan sesama pendidik, dan masih banyak lagi.

4. Berhenti di Penyusunan Laporan dan Pembuatan Jurnal
Penyusunan Laporan dan pembuatan Jurnal merupakan bukti otentik telah dilaksanakannya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) oleh guru. Oleh karena itu, guru mau tidak mau memperhatikan sistematika dan aturan penyusunan laporan dan pembuatan jurnal ilmiah termasuk publikasinya. Padahal sebenarnya, kegiatan menyusun laporan PTK maupun jurnal, dapat guru peroleh dari mana saja, seperti workshop, lokakarya, seminar, pelatihan atau bimbingan teknis, kegiatan KKG, dan masih banyak lagi. Bahkan saat ini, guru dapat dengan mudah mencari informasi terkait penyusunan Laporan PTK dan pembuatan Jurnal dengan mengakses internet. Hanya saja, prinsip yang harus dipegang adalah hindari plagiasi. Guru hanya boleh membaca sebagai referensi penyusunan laporan dan pembuatan jurnal, namun dilarang keras untuk meniru atau melakukan tindakan plagiasi. Hal ini perlu guru sadari, karena apabila bentuk penyusunan Laporan dan pembuatan Jurnal hanya dari aktivitas plagiat akan berdampak pada dirinya sendiri saat hasil Karya Tulis Ilmiah baik laporan PTK maupun jurnal dinilai oleh tim penilai.

5. Laporan PTK dan jurnal tidak laku?
Rangkaian kegiatan PTK/PTS memang tidak cukup berhenti pada penyusunan hingga menjadi sebuah laporan, melainkan apa yang sudah guru lakukan harus dipublikasikan. Mengapa demikian?
Perhatikan Lampiran 1 tentang Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 pada bagian Rincian Kegiatan Guru dan Angka Kreditnya.
Pada aturan tersebut tertera secara jelas bahwa guru harus melaksanakan publikasi ilmiah melalui kegiatan presentasi pada forum ilmiah (seminar) dan mempublikasikan jurnal/artikel hasil penelitiannya untuk memperoleh buku/ majalah ilmiah yang diterbitkan. Hal ini memiliki tingkatan penilaian tersendiri terhadap skor angka kredit yang diperoleh guru. Namun, sayangnya kebanyakan guru bingung untuk melakukan syarat ini, sehingga kegiatan PTK/PTS yang dilakukan berhenti pada tahapan penyusunan tanpa ada publikasi. Hal inilah yang menjadikan laporan PTK/PTS beserta jurnal/ artikel ilmiah yang telah disusun tidak mendapatkan skor yang sesuai harapan.
Tidak cukup sampai disini, kegiatan presentasi pada forum ilmiah (seminar) juga harus diperhatikan. Guru harus memiliki sertifikat sebagai bukti telah dilaksanakannya kegiatan tersebut. Bagaimana dengan jurnal/ artikel yang telah dipublikasikan/ diterbitkan? Selain memiliki buku/ majalah hasil penerbitan, guru juga harus melengkapinya dengan surat keterangan terkait penerbitan.

Beberapa hal di atas, merupakan alasan terbesar dibalik sulitnya guru untuk melakukan kegiatan PTK/ PTS. Semoga artikel ini dapat memotivasi guru untuk senantiasa melakukan pengembangan profesionalisme khususnya pada kegiatan Penelitian Tindakan Kelas/ Sekolah. Hidup Guru !!

Related Post

phone sms wa Tambahkan Kontak Whatsapp Kami : 087738606633