Cart

Berita

Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Mengulik Rahasia di Balik Siklus PTK

Penelitian Tindakan Kelas yang biasa disingkat dengan PTK adalah action research yang dilakukan di kelas (Classroom Action Research). Menurut Arikunto, dkk (2007: 3) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Di dalam PTK terdapat proses perputaran tindakan pemecahan masalah yang dinamakan dengan siklus.

Siklus pada hakikatnya terjadi secara alamiah berdasarkan rancangan tindakan yang akan dilakukan. Di dalam siklus, terdiri dari empat langkah atau tahapan yang dilalui. Menurut konsep PTK Kurt Lewin empat tahapan tersebut adalah perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Adapun alur siklus tersebut dapat dilihat pada gambaran berikut:
Dari gambar di atas dapat dipaparkan bahwa tahapan setiap siklus berlangsung secara prosedural, mulai dari perencanaan hingga refleksi. Secara umum, paparan langkah/ tahapan yang dilakukan pada Penelitian Tindakan

Kelas adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan rancangan tindakan yang akan dilakukan, termasuk menyusun segala instrumen dan kelengkapan yang diperlukan seperti, jadwal pelaksanaan, instrumen lembar observasi dan instrumen evaluasi/ penilaian, menyiapkan perangkat pembelajaran silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan menyiapkan sumber belajar, media dan metode yang akan digunakan.

b. Pelaksanaan (Action)
Tahap pelaksanaan merupakan penerapan segala hal yang telah dirancang pada tahapan sebelumnya. Secara umum, guru biasanya melakukan 2x pertemuan di setiap siklusnya. Pada pertemuan pertama guru biasanya mengoptimalkan pada pemahaman konsep materi, sedangkan pada pertemuan kedua lebih memfokuskan pada pematangan konsep dan tes evaluasi untuk pengambilan data siklus yang telah berjalan. Tindakan memuat langkah-langkah atau tahapan pembelajaran yang sudah disesuaikan dengan metode atau media yang digunakan misalnya meningkatkan hasil belajar melalui penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini dilaksanakan berdasarkan rancangan yang telah disusun pada RPP.

c. Observasi (Observation)
Tahapan ketiga adalah tahap pengamatan. Proses pengamatan pada setiap siklus, membutuhkan instrumen lembar observasi, seperti observasi terhadap sikap siswa, observasi terhadap guru, maupun observasi terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar. Menurut Nawawi dan Martini (1992: 74), observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala – gejala pada objek penelitian. Lembar observasi memuat aspek-aspek yang harus diamati observer yang disertai kriteria penskoran. Pengamatan pada intinya dilakukan untuk mengetahui dampak dari tindakan setiap siklus yang menggunakan media/ metode sebagai solusi pemecahan masalah pada proses pembelajaran.

d. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah tahapan keempat yang dilakukan untuk menganalisis dan mengevaluasi terkait pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus yang telah berjalan. Hasil yang diperoleh pada tahapan refleksi ini digunakan untuk menentukan rancangan tindakan yang akan dilakukan pada tindakan siklus berikutnya. Hasil refleksi juga dilakukan untuk mengukur sejauh mana ketercapaian pembelajaran pada siklus pertama yang telah berjalan. Hal yang menjadi prinsip penentuan keputusan tentang pelaksanaan tindakan berikutnya adalah indikator keberhasilan penelitian. Dengan adanya indikator keberhasilan guru dapat menganalisis apakah hasil yang diperoleh telah mencapai indikator keberhasilan atau belum.

Contoh menyusun indikator keberhasilan:
Penelitian dinyatakan berhasil apabila memenuhi 3 komponen sebagai berikut:
1) Siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai dengan batas KKM sebesar 75
2) Secara klasikal pembelajaran dikatakan tuntas/ berhasil apabila tingkat ketuntasan klasikal mencapai batas minimal 85%. Artinya sebanyak 85% dari jumlah siswa yang ada di dalam kelas telah mencapai nilai KKM yang ditetapkan.
3) Keaktifan siswa mencapai 75% dan proses pembelajaran mininal mencapai kriteria Baik.

Apabila hasil yang dicapai belum memenuhi tujuan dan indikator keberhasilan penelitian, maka guru harus melanjutkan tindakan pada siklus berikutnya. Pada siklus berikutnya guru memulai kembali 4 tahapan yang dilakukan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Begitu seterusnya hingga tujuan dan indikator keberhasilan tersebut dicapai.

Hal penting yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan pada setiap siklus, dapat dijadikan pijakan untuk melakukan perbaikan, sehingga pada siklus berikutnya dapat diatasi dengan baik dan hasil yang diperoleh pun dicapai lebih optimal pula. Tindakan yang dilakukan pada siklus berikutnya pada dasarnya sama dengan tindakan sebelumnya. Hanya saja, pada siklus berikutnya, guru dapat melakukan terobosan dan jalan keluar yang dapat memperbaiki kekurangan dan kelemahan pada siklus sebelumnya tanpa mengubah metode/ media sebagai solusi pemecahan masalah pada kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. Contoh: pada siklus pertama, guru menerapkan metode diskusi kelompok dengan kategori kelompok besar (setiap kelompok 6-8 orang) ternyata hasilnya keaktifan siswa belum secara menyeluruh terlihat, karena kegiatan diskusi didominasi oleh siswa yang memang berlatar belakang aktif/ suka bicara. Oleh karena itu, pada siklus berikutnya atau pada siklus II guru tetap menggunakan metode diskusi dengan kategori kelompok kecil (setiap kelompok 3-4 orang).

Inilah beberapa hal yang ada dibalik siklus PTK, cukup mudah bukan? Semoga artikel ini sedikit membantu pendidik dalam melakukan siklus PTK. Sukses dan hidup Guru!

Related Post

phone sms wa Tambahkan Kontak Whatsapp Kami : 087738606633